Alquran cukup
indah menggambarkan persoalan takdir ini. Ketika takdir dikaitkan dengan Allah
SWT, maka takdir adalah gambaran kekuasaan Allah SWT yang tak terbatas dan
mutlak. Allahlah yang menciptakan alam raya beserta segala isinya, tanpa ada
yang mampu menandinginya. Manusia adalah bagian dari takdir penciptaan itu
sendiri. Manusia adalah makhluk Allah SWT yang terlingkupi oleh takdir-Nya.
Namun, lain
halnya ketika takdir itu dikaitkan dengan umat manusia. Alquran selalu
menggambarkan bahwa manusia memiliki keleluasaan untuk melakukan berbagai hal
yang mereka inginkan. Dalam Alquran tercatat: ''Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah nasib mereka sendiri.''
(Ar-Ra'd: 11). Alquran juga menggambarkan bahwa apa yang akan manusia peroleh
di akhirat nanti, itulah hasil usaha mereka di dunia. ''Siapa yang beramal
baik, maka ia akan menuai kebaikan itu, namun siapa yang beramal buruk, maka ia
akan mendapatkan keburukan di akhirat itu pula.'' (Al-Zalzalah: 7-8).
Dilihat sepintas
lalu, ada perbedaan tajam menyangkut takdir tersebut. Di satu sisi Allah SWT
mahakuasa dan menguasai manusia, namun di sisi lain Allah juga menyatakan
manusia memiliki keleluasaan berbuat sesuai dengan kehendaknya. Lalu, apa
sebetulnya hakikat takdir itu? Dalam satu kesempatan, Nabi SAW pernah
menggambar garis lurus di atas tanah, dengan disaksikan oleh para sahabatnya.
Beliau menggambar banyak garis yang berbeda bentuknya dan satu garis lurus.
Ketika menggambar itu, beliau ditanya oleh para sahabatnya tentang maksud
gambar itu.
Beliau lantas
bersabda, ''Ini adalah satu jalan yang lurus, sedangkan yang lainnya adalah
jalan-jalan yang beragam.'' (HR Bukhari dan Muslim). Artinya, di dunia ini ada
banyak jalan yang dilalui oleh umat manusia. Manusia bebas menempuh jalan-jalan
itu, namun selanjutnya, Nabi SAW tegaskan hanya ada satu jalan lurus yang mesti
ditempuh oleh umat manusia. Jalan inilah yang Allah SWT dan Rasul-Nya
tunjukkan.
Takdir dengan
demikian adalah keputusan dan ketetapan Allah SWT yang pasti terjadi. Namun,
kita tidak akan pernah tahu takdir Tuhan seperti apa. Kita tidak dituntut untuk
tahu apa yang Allah SWT tetapkan pada kita. Yang dituntut dari kita adalah
upaya kita untuk melakukan segala macam amal kebaikan positif di dunia ini. ''Dunia
itu ladang akhirat,'' ujar Rasulullah SAW. (HR Bukhari). Yang menanam kebaikan
akan beroleh kebaikan. ''Berlomba-lombalah dalam hal kebaikan.'' (Al-Baqarah:
148).
0 komentar:
Posting Komentar