Apakah Akhlak
Menentukan Seseorang Masuk Surga atau Tidak ?
Ada satu jawaban
yang singkat, jelas dan tegas untuk pertanyaan tersebut yaitu, “kalau memang
akhlak dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan pantas tidaknya seseorang
masuk surga, maka agama tidak diperlukan lagi di muka bumi ini”
Kalau memang
akhlak kriteria utama menentukan masuk surga atau tidaknya seseorang, maka
untuk apa lagi agama, karena tanpa agama saja orang bisa berbuat baik. Di
negeri atheis seperti di Rusia, China, atau di negeri sekuler seperti Eropa dan
Amerika, ditemukan banyak orang yang tak beragama tapi memiliki akhlak yang
luar biasa baiknya. Tidak usah jauh-jauh, pasti kita sering menemukan diantara
teman atau tetangga kita akhlaknya sangat baik, ia mengaku punya agama tapi tak
pernah sholat atau ke gereja, tapi nyatanya akhlaknya lebih baik dari umat
Islam yang rajin beribadah.
Sifat baik
adalah fitrah yang diberikan Allah sejak kita didalam kandungan. Fitrah
(sifat-sifat baik) adalah kecenderungan manusia untuk berbuat kebaikan, seperti
halnya binatang buas diberi Allah kecenderungan untuk bersifat buas, mereka
akan tetap buas walaupun manusia berusaha menjinakkannya. Hawa nafsu dan
pilihan manusia sendiri yang membuat seorang manusia menjadi jahat dan
berperilaku buruk.
Dalam sebuah
hadits qudsi Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku
dalam keadaan hanif (lurus) semuanya. Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh
setan yang menyebabkan mereka tersesat dari agama mereka” (HR Muslim).
Allah
menganugerahi manusia kesempatan untuk memilih yang baik atau yang buruk sesuai
firman Allah : “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (QS, Al-Balad
90 : 10). “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang
bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS, Al-Insaan 76 : 3).
Kemudian setan
berusaha mengaburkan jalan yang benar sehingga jalan yang baik oleh manusia
dikira sesat, dan jalan yang sesat dikira benar. Allah SWT berfirman dalam
Al-Quran surat Al Baqarah 2 : 216) : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal
ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia
amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Namun tujuan
tulisan ini sama sekali bukan untuk menyatakan bahwa akhlak yang baik tidak
penting, atau menjadi muslim yang berperilaku buruk lebih baik daripada
non-Islam yang baik hati. Tujuan tulian ini agar kita menyadari bahwa Tuhan
tidak menuntut dari manusia sekedar akhlak yang baik, tapi juga ada hal lain
yang lebih utama dibanding akhlak.
Bahkan Akhlak
Seorang Muslim Yang Baik Sekalipun Tidak Cukup Untuk Membuatnya Masuk Surga.
Saat Rasulullah
SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya
lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda
itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya
Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya
sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu
saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu
sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: "
Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti
kepada orang tua?" Nabi SAW sangat terharu mendengarnya, sambil memeluk
anak muda itu ia berkata : "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang
soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan
terbalaskan oleh pengorbanan dan kebaikanmu". Dari hadist tersebut kita
mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas
cinta dan kebaikan orang tua kita terhadap anaknya. Kita merasa sudah cukup,
tapi dalam perhitungan Allah nilai jasa kedua orang tua pada anaknya jauh lebih
besar nilainya dari yang dibayangkan manusia. Pasti ada sesuatu perbuatan lain
yang harus kita lakukan untuk memperbanyak balas budi kita pada kedua orang tua
kita. Diantaranya dengan cara menjadi anak yang sholeh dan selalu mendoakan
kedua orangtua kita.
Untuk membalas
budi kedua orang tua saja kita tidak akan pernah sanggup, apalagi membalas
kebaikan Tuhan yang mengkaruniakan kita fitrah kasih sayang pada kedua orang
tua kita, yang mengkaruniakan kita mata yang mampu melihat, telinga yang mampu
mendengar, lidah yang mampu merasakan kelezatan makanan, yang telah
mengkaruniakan kita udara secara gratis.
Ada perspektif
yang sama antara hadits tersebut barusan dengan hadits berikut ini. Rasulullah
SAW pernah berkata, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan
kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya
Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh sayapun juga tidak cukup”.
Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk
surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena
rahmat dan kebaikan Allah semata”. Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita
kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat
Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Amal soleh yang
kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam)
tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna
apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat
surga yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat
Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat
Allah.
Apa makna dari
kedua hadits tersebut diatas ? Yaitu bahwa perbuatan baik (akhlak) dan ibadah
kita ternyata tidak mampu untuk mendapatkan tiket ke surga. Hanya karena
rahmat-Nya lah kita bisa ke surga. Akhlak dan amal ibadah juga tidak cukup
menjamin kita terbebas dari api neraka, hanya ampunan-Nya lah yang bisa membuat
kita terbebas dari api neraka. Karena itu kita diminta banyak memohon rahmat
dan ampunan Allah.
Pertanyaan
berikutnya (dikaitkan dengan judul tulisan ini) adalah apa syaratnya agar doa
kita untuk memohon rahmat dan memohon ampunan Allah bisa diterima ?
Tidak semua
orang diberi rahmat surga, dan tidak semua orang diberi ampunan dari ancaman
neraka. Karena itu Allah menentukan syarat utamanya adalah beriman kepada-Nya
dan rasul-Nya (melalui syahadat). Ia harus memiliki aqidah yang benar, memahami
siapa Tuhan yang disembahnya dengan benar, apa yang dimaui-Nya, bagaimana cara
mencintai-Nya. Inilah syarat utama agar permohonan rahmat dan ampunan kita bisa
diterima.
Apakah Benar
Anggapan Bahwa Sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang Akan Membuat Allah
Tidak Mungkin (Tega) Menghukum Orang Yang Baik Hati ?
Di akhirat kelak
orang yang tidak beriman kepada Allah akan membawa amal kebaikannya ke hadapan
Allah, tapi kemudian Allah tidak menerimanya, seperti tersebut dalam Al Qur’an
surat Al Furqan ayat 23, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan,
lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”.
Ibarat seorang
pembantu yang bekerja keras pada majikannya, setiap hari ia bangun pagi
membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyapu halaman, menjaga keselamatan anak
majikan selama majikan bekerja diluar. Namun sang pembantu yang rajin ini
ternyata tidak sopan dalam kata dan perilaku, Sang pembantu tidak mau berusaha
memperbaiki sikapnya ini pada atasannya, karena ia mempunyai pendapat sendiri
tak mungkin majikan akan memecatnya karena ia sudah bekerja sangat keras dan
merawat anak-anak majikannya dengan baik. Ia tidak juga berusaha mencari tahu
apa yang diinginkan sang majikan. Padahal jelas sang majikan sudah menulis
tatatertib dan uraian kerja pembantu rumah tangga, diantaranya disebutkan bahwa
kesopanan adalah syarat terpenting bekerja di rumah majikan tersebut. Bahkan
terkadang ia sombong dan keras hati serta menyimpulkan sendiri bahwa sebagai
orang yang berintelektual tinggi seharusnya majikannya bisa menerima kekurangan
sang pembantu. Iapun kaget ketika di akhir bulan, sang majikan memecatnya
dengan alasan tidak sopan. Ia protes tapi majikannya punya hak.
Analogi
sederhana ini, menyiratkan bahwa agar doa, ampunan, amal dan ibadah kita bisa
diterima Allah hendaknya kita mengenal Allah secara baik, melalui perenungan
dan makrifatullah. Kitapun sebagai hamba Allah perlu mencari tahu apa
sebenarnya syarat utama yang diinginkan Allah agar segala amal ibadah dan
akhlak baik kita diterima Allah. Tidak susah mengenal Allah karena karya-Nya
ada disekeliling kita, yaitu alam semesta ini, bahkan Ia telah memperkenalkan
diri-Nya pada manusia melalui kitab-kitab suci dan ajaran nabi-Nya. Dengan mengenal
allah secara baik kita akan tahu bahwa Allah sangatlah penyayang, demikian
sabar dengan kelemahan manusia, terlalu banyak kesalahan kita yang
dimaafkan-Nya, bahkan kita akan tahu bahwa terlalu berlebihan kalau keimanan,
amal ibadah dan kebaikan kita dibalas dengan surga yang luar biasa nikmatnya.
Dengan hati yang bersih dan ilmu yang cukup juga akan memudahkan kita memahami
mengapa Allah mengancam orang-orang tidak beriman dan yang buruk akhlaknya
dengan neraka.
Memahami Allah
dengan menggunakan kemampuan akal manusia adalah sia-sia, karena hakikat
sifat-sifat Allah tidak dicerna oleh akal manusia, tapi oleh hati manusia. Hati
manusia akan membantu kita memahami Allah, karena didalam hati bersemayam
fitrah manusia yang salah satunya memiliki sifat-sifat cinta kepada Allah.
Hatipun perlu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran (sifat sombong, dengki,
kikir, dsbnya) agar fitrah manusia bisa diaktifkan untuk memahami sifat-sifat
Allah dengan baik.
Tanpa Mengenal
Sifat Allah Dengan Baik Maka Sia-sialah Akhlak Baik, Amal dan Ibadah Kita
Melalui
pengenalan yang baik terhadap Allah melalui cara-cara yang diatur dalam Qur’an
dan hadits, akan kita temukan bahwa Allah mensyaratkan aqidah Islam yang benar
sebelum segala amal ibadahnya diterima.
Aqidah adalah
hal yang pokok yang membedakan Islam dengan agama lainnya. Aqidah adalah
fondasi bangunan seorang umat Muslim, sedang ibadah (syariah) adalah dinding
bangunan seorang Muslim, lalu akhlak adalah atapnya. Tanpa fondasi maka ia pun
tidak bisa mendirikan bangunan diri seorang Muslim, tanpa aqidah yang benar dan
lurus iapun tidak pantas disebut seorang Muslim. Tanpa ibadah yang sesuai
syariah Islam, iapun belum sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah bangunan
yang bernama Muslim. Demikian pula, tanpa Atap yang bernama akhlak, bangunan
yang bernama Muslim ini belum utuh dan akan mudah rusak oleh hujan dan panas.
Muslim yang baik wajib memiliki ketiga syarat ini (aqidah, ibadah dan akhlak)
secara lengkap, tidak kurang satupun, dan harus sempurna. Bila aqidahnya salah,
maka kekal lah ia di neraka, bila ibadah dan akhlak buruk maka ia ‘mungkin’
masih berpeluang masuk surga setelah di’cuci’ dulu di neraka. Semoga kita tidak
termasuk sebagai orang yang di’cuci’ dulu, apalagi kekal, di neraka. Mumpung
kita masih hidup di dunia ini, semoga kita diberi ilmu oleh Allah SWT mengenai
kedahsyatan akhirat dan neraka, supaya kita tidak menggampangkan diri untuk
menganggap bahwa di’cuci’ di neraka adalah bukan masalah besar. Tidak untuk
sedetikpun ! Naudzu billah min dzalik.
Aqidah adalah
apa yang diyakini seseorang, bebas dari keraguan. Aqidah adalah iman yang teguh
dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya.
Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya
kepada sesuatu. Aqidah Islam merupakan syarat pokok menjadi seorang mukmin, dan
merupakan syarat sahnya semua amal kita. Untuk memperoleh aqidah yang lurus
kita perlu mempelajari dan memahami sifat-sifat Allah dan apa-apa yang disukai
dan dibenci Allah. Tanpa aqidah yang lurus maka amal ibadah kita tidak
diterima-Nya. Salah satu hal yang paling dibenci Allah SWT adalah syirik, yaitu
mensejajarkan diri-Nya dengan makhluk atau benda ciptaan-Nya. Allah berfirman,
“Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah
kamu termasuk orang yang merugi” (QS, Az-Zumar: 65).
Aqidah adalah
tauqifiyah, artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil, dan tidak ada
medan ijtihad atau berpendapat didalamnya. Sumbernya hanya al-Qur’an dan
as-Sunnah, sebab tidak ada yang lebih mengetahui tentang sifat-sifat Allah
selain Allah sendiri. Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat
pasti kepada Allah SWT dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan ta’at
kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya,
Kitab-Kitab-Nya, hari akhir, taqdir baik dan buruk dan mengimani seluruh
apa-apa yang sudah shahih tentang Prinsip-Prinsip Agama (Ushuluddin),
perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus)
dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara
ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut al-Qur-an dan
as-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.
Begitu
pentingnya aqidah dalam Islam, sehingga pelurusan aqidah adalah dakwah yang
pertama-tama dilakukan para rasul Allah, setelah itu baru mereka mengajarkan
perintah agama (syariat) yang lain. Didalam Al Qur’an, surat Al-A’raf ayat 59,
65, 73 dan 85, tertulis beberapa kali ajakan para nabi, “Wahai kaumku, sembahlah
Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain-Nya”. Dengan demikian ilmu Tauhid
sebagai ilmu yang menjelaskan aqidah yang lurus, merupakan ilmu pokok yang
harus dipahami sebaik mungkin oleh setiap umat Islam yang ingin memperdalam
ilmu agamanya. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan terbenam dalam keraguan
dan berbagai prasangka, yang lama kelamaan akan menutup pandangannya dan
menjauhkannya dari jalan hidup kebahagiaan. Tanpa aqidah yang lurus seseorang
akan mudah dipengaruhi dan dibuat ragu oleh berbagai informasi yang menyesatkan
keimanan kita.
Wallahu a’lam
bish shawab.
Sumber : tulisan
oleh Abdillah M.U & diedit sedikit oleh Penjaga Kebun.
0 komentar:
Posting Komentar